Babak 1:
Keluar kamar dan melihat rumah sudah seperti kapal pecah mungkin lebih tepatnya kapal pecah yang menyerupai sebuah rumah. Masih dengan muka lesu kemudian menatap malas ke arah si genit. Matahari sepertinya baru muncul 3 jam yang lalu.
Si Genit : “Mah…ma..wa..yaaa….*tertawa ke arah saya, mungkin karena muka jelek saya yang kusut dan merengut*”.
Saya : “Aduh sayang… kamu ngapain lagi?”
Si Genit: *berjalan menggunakan pantat (ngesot) dengan kecepatan 200 cm/jam ke arah saya* “Mah..mah…waaa…nggggh…waaa…*sambil mengangkat tangan tanda-tanda minta digendong*
Saya : “Hmmn… ya..ya.. sini..sini…”, *masih dengan muka lesu*
Gadis kecil yang belum genap 16 bulan itu memang benar-benar ajaib. Hampir setiap hari mampu meluluhkan hati saya karena tatapan malaikat *maut*-nya. Bak binaragawati yang sedang latihan angkat beban saya lempar dia ke udara *dan saya tangkap lagi*. Si Genit selalu tertawa terbahak-bahak saat kami bermain *sebut saja* lempar bayi. Sayapun senang pagi itu…kesenangan yang hanya sementara karena menjelang malam pegal linu bersarang di badan. Dan kelakuan si genit pun tak berujung sampai di situ…karena sepertinya dia belum puas kalau tantenya hanya terserang pegal-pegal dan linu- linu.
Babak 2:
Kadang kalau ada kesempatan saya menyempatkan diri untuk tidur siang. Berusaha me-rileks-kan diri di tengah kegaduhan rumah. Udara siang Jogja kadang benar-benar nyaman dan sejuk. Matahari yang bersinar terang namun tidak panas terik, angin sepoi yang kadang masuk melalui ventilasi mampir dan membelai saya sebentar. Aah..sepertinya belum sampai 10 menit saya merebahkan diri dan hampir sampai di pulau mimpi tanpa ada firasat apa-apa, tiba-tiba…
Si Genit: “Mah..ma…waaaa…waaaa…tuuuuhh…”.*sambil gedor-gedor pintu kamar saya yang terkunci*
Mata saya langsung terbuka, jantung berdebar karena kaget. Sepertinya ada orang berteriak-teriak, mungkin ada kebakaran. Namun setelah saya sadari ternyata itu teriakan si Genit. Oke…sekarang apa yang harus saya lakukan? Akhirnya dalam kebingungan saya ambil keputusan untuk mengacuhkan suara-suara gaib tersebut. Tapi…
Si Genit: “Mah…nyaaaaah…nyyaaa..nyeee….waaaaa…”.*nadanya berubah bagai rintihan kuntilanak, sepertinya dia mulai putus asa*
Saya : *ssssiiiiinnnggg……..hening*
Si Genit : *makin keras gedor pintunya dan kemudian…* “ehek…ehek…aaaaa….hoaaaaa…hiiiii….hiiiiiikkkss….” *tangisnya pecah, keras sekali seolah-olah tangisannya itu seperti siaran speaker di Mushola*
Hmmnn… sepertinya si Genit memang sudah ahli soal cara mengambil hati saya. Sayapun keluar kamar dan di sambut tawa riang khas si Genit. Ah..bocah ini benar-benar tidak ada duanya. Saya tersenyum imut*maksa* ke arah si Genit dan menggendongnya. Dan memang sepertinya makin lama saya tinggal di rumah ini makin kekar badan saya ini. Setiap hari mengangkat dumbel hidup seberat 10kg.
Namun, di luar itu semua..memiliki keponakan yang aktif dan lucu memang obat stress yang ampuh. Sebenarnya saya sedikit sedih saat membayangkan saat di kost nanti tiba-tiba kangen si Genit. Bagaimanapun juga saya tidak bisa setiap hari menjenguknya walaupun jarak antara rumah dan kost hanya menempuh waktu 20 menit. Bagi seorang wanita seperti saya yang belum*tidak terlalu ingin* berumah tangga memiliki si Genit sudah cukup membuat saya merasa bak seorang ibu muda. Entah nantinya si Genit akan tumbuh menjadi seperti apa tapi satu yang pasti saya akan selalu menyayanginya.
Hidup tante-tante muda!! Hiduuuup!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar