Saya pernah meyakini bahwa menjadi dewasa adalah sebuah pilihan dan di balik semua itu mata saya kini telah terbuka. Dosen sayalah yang telah membukakan mata saya. Beliau berkata dewasa adalah sebuah pilihan namun semua itu relatif. Dalam artian kita masing-masing memiliki taraf kematangan kita masing-masing. Dewasa tidak bisa dikatakan sebagai hal yang mutlak dan permanen.
Kemudian saya mengambil waktu sejenak untuk berfikir apa yang beliau ingin sampaikan. Hingga beliau berkata, “ Orang bilang makin bertambah umur seseorang maka dia akan makin memunculkan ke sifat kekanakannya... Coba perhatikan kakek atau nenek Anda.. maka Anda akan mengerti dan kemudian menyadari kedewasaan itu sendiri. Apakah Anda percaya bahkan penyakit dapat membuat orang menjadi kekanakan atau sebaliknya menjadi dewasa?”
Ya, sepertinya memang benar apa yang dikatakan beliau. Dengan usia matang dan pengalaman-pengalaman hidup yang terlukiskan dari kerutan-kerutan di wajahnya, saya yakin dia telah banyak makan asam garam kehidupan. Beliau yang kini dalam tahap penyembuhan dari kanker yang beliau idap, mengatakan bahwa kita dapat memilih untuk dewasa namun jangan biarkan itu semua menjadi sebuah penyakit atau malah sebuah beban.
Saya mencoba menyelami masa lalu saya. Ya, ketika saya berpacaran dengan mantan saya kadang saya merasa lelah. Mengapa? Baru saya temukan jawabannya semalam setelah melalui pertengkaran dengan pacar saya. Saya lelah, saya ingin sebuah pelukan hangat. Jika saya bertanya apa sikap yang biasanya Anda lakukan saat anda merasa nyaman bersama seseorang atau merasa nyaman di sebuah lingkungan atau di keluarga Anda, apa yang akan Anda jawab?
Mungkin jika anda bertanya pada saya kapan saya bersikap kekanakan, manja, atau jauh dari kata dewasa, jawaban saya adalah ketika saya merasa sangat nyaman sehingga terbuai dalam kesenangan. Bertemu orang yang datang membantu saya mengurangi beban dipundak saya ini, menghidangkan secangkir teh hangat dan memijit bahu saya yang pegal, itu benar-benar membuat saya terbuai. Ketika saya lelah mengartikan makna-makna hidup dan ketika saya lelah menjadi orang yang selalu mengertikan orang lain saat itu yang saya butuhkan adalah sebuah pelukan hangat yang membuat saya melupakan sejenak letih yang mendera. Memiliki seseorang yang mau mengerti ketika saya membutuhkan belaian lembut dan sambutan hangat.
Semua orang selalu ingin dimengerti dan sayapun seperti itu. Namun walaupun sulit, saya selalu berusaha menjadi orang yang mengerti dan mengalah. Mengalah itu tidak enak dan tidak selamanya benar, namun bisakah masalah terselesaikan ketika tidak ada yang mengalah atau tidak ada penyelesaian. Saya sering menyalah artikan bahwa menjadi dewasa adalah selalu mengalah. Bodoh namanya. Tapi saya masih tidak dapat mengerti. Dewasa menurut saya sekarang ini adalah bagaimana kita penyesuaikan sikap dan tingkah laku. Apa itu benar?
Anda pastinya pernah menemukan salah satu contoh yang akan saya sebutkan ini. Kakak adik yang berbeda jauh umurnya bisa menjadi salah satu contohnya. Seorang adik bisa jauh lebih tinggi taraf kematangannya dibanding sang kakak. Bagaimana ini bisa terjadi? Menurut saya ini adalah faktor tingkat kepekaan dan penalaran dari masing-masing individu.
Kini sepertinya menjadi dewasa bukanlah hanya sebuah pilihan namun juga sebuah penyesuaian yang muncul dari kepekaan kita masing-masing. Buat saya menjadi dewasa itu melelahkan, tapi saya tidak dapat berdiam diri ketika keadaan menuntut saya untuk menjadi dewasa. Kalau Tuhan memberikan saya sebuah permintaan untuk dikabulkan, saya ingin menjadi anak-anak selamanya.
Saya bahkan hampir lupa bagaimana senangnya saya sewaktu kecil dulu ketika menyambut Ibu saya pulang dari mengajar di sekolah. Sewaktu saya kecil saya tidak harus mengerti dan memahami semua norma-norma yang ada di sekitar saya. Saya tidak harus menghiraukan apa kata orang. Semua yang ada di otak saya adalah hal-hal sederhana dan menyenangkan. Ibu, bermain, makan, dan bergembira.
Yah walaupun kadang saya sebal saat apa yang saya katakan kepada Ibu saya hanya dianggap angin lalu karena saya si anak bontot yang belum tau apa-apa. Sebenarnya sampai sekarang itupun terus berlanjut. Ya, saya dapat mengerti kalau orang tua saya masih menganggap saya seperti anak kecil. Walaupun kadang saya merasa tidak nyaman tapi saya senang karena paling tidak mereka menyayangi, menjaga, dan tetap menganggap saya sebagai si anak bontot lugu kesayangan mereka. Saya bersyukur, ya saya bersyukur.
Kalau boleh memilih saya tidak ingin menjadi dewasa tapi kalau ditanya mengapa, saya akan menjawab saya akan belajar menghargai diri saya dulu. Apa hubungannya dengan menghargai diri sendiri? Banyak yang harus kita korbankan saat kita memilih untuk menjadi dewasa. Saya ingin menghargai diri saya dengan memberikan waktu dan kesempatan. Waktu untuk mempersiapkan diri untuk memilih sebuah pilihan dan kesempatan untuk menjalani proses dalam rangka menuju kedewasaan.
Saya ingin menjadi dewasa karena keinginan sendiri bukan karena tuntutan peran saya dalam lingkungan. Saya ingin menjadi dewasa dengan keinginan saya sendiri untuk menghargai hidup yang saya jalani dan menghargai semua yang hidup berdampingan dengan saya. Biarlah saya tetap menjadi si anak bontot yang lugu asal saya selalu berada dipelukan Ibu saya. Dunia selalu menuntut saya untuk segera bersikap dewasa namun tidak dengan Ibu saya. Bersikap kekanakan berbeda dengan mempunyai sifat anak-anak. Ya, saya akan menyimpan sifat-sifat anak kecil yang tersisa dalam diri saya, yang selalu melakukan segala sesuatu dengan tulus dan murni. Seperti saya tulus dan murni dalam mengasihi sesama dan tentunya dalam mencintai kekasih saya.
we are beautiful no matter what they say, words won’t bring us down..
C.A. ~ Beautiful
we are beautiful in every single way, words won’t bring us down..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar