Selasa, 08 Februari 2011

Cuma mau buang gumpalan kertas-kertas lusuh

Beberapa waktu lalu seorang fasilitator berkata " hargailah waktu, tiap jam, menit, detik dalam hidupmu"
Mengapa aku harus?
Dia berkata betapa waktu satu bulan sangat berarti bagi janin yang tumbuh dalam rahim ibunya, betapa waktu satu detik sangat berarti bagi orang yang lolos dari maut.
Kemudian aku berfikir. Mungkin aku merasa egois disaat aku tak benar-benar memanfaatkan waktu ketika orang lain menantikan keajaiban hanya untuk mendapat detik-detik yang kubuang sia-sia.



Waktu itu semasa aku SMA dulu,aku pernah mampir ke rumah salah seorang temanku. Duduk dan numpang nonton tivi, kulihat dia sibuk dengan adik lelakinya. Sempat terdengar jeritan-jeritan kecil dari luar tempatnya dan adiknya berada. Tak berapa lama dia masuk dengan mata berkaca-kaca dengan bibir bawah yang digigitnya kecil. Kemudian kubuka kedua tanganku dan diapun menghambur dipelukanku. Ya, dia memang menangis dan aku bertanya, "kenapa?" dia menjawab, "Adikku.. kenapa dia ga mau nurut?". Hmnn.. aku sedikit bingung lalu ku ambil tehku dan kuberikan padanya. Bagaimana caranya agar aku bisa tau tipe orang yang mudah terluka tanpa harus melukainya terlebih dahulu?



Dulu aku pernah duduk berdua di depan Bapakku. Duduk di ruang belakang dekat taman dengan hiasan bintang dan bulan. Bapakku sedang menghisap rokoknya dan menatap langit. Aku duduk di depannya menangkupkan kedua tanganku. "Aku tak bisa tinggal dengannya, Pak...", kemudian kepalaku tertunduk meresapi dalam hati apa sebenarnya makna air yang tengah mengalir melewati kedua pipiku. Bapakku kemudian menjentikkan ujung rokoknya, menyisihkan abu rokok ke dalam asbak hijau itu. Dan lihatlah sekarang aku sudah kost. Belajar mengerti bagaimana Bapakku menafsirkan segala sesuatu memang susah. Entah kenapa dia berbeda.


Yah.. dunia oh dunia..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar